Opini

Amien dan Syafi’i: Dua Pendekar yang Tersisa

Oleh: Ali Ahmad Alfarisy

Bagi sebagian orang, Amien Rais dan Buya Syafi’i Ma’arif adalah dua tokoh bangsa yang cukup “kontroversial”. Tak jarang pandangan kedua tokoh itu kerap kali mengundang perdebatan. Ada yang mencaci, memaki, tapi tak sedikit yang memuji dan mencintai kedua tokoh tersebut.

Dalam salah satu tulisannya, Gus Dur memberikan gelar kepada keduanya sebagai bagian dari Tiga Pendekar Chicago (Cak Nur, Amien Rais, dan Buya Syafi’i Ma’arif). Gelar tersebut diberikan oleh Gus Dur karena mereka dianggap sebagai generasi awal Cendekiawan Muslim yang lahir/lulus dari Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Baik Pak Amien maupun Buya Syafi’i adalah dua tokoh yang dapat dibilang lahir dari rahim yang sama: Muhammadiyah, Universitas Chicago, dan Aktivis (IMM dan HMI). Namun, persamaan itu tidak menjadikan mereka memiliki ekspresi intelektual yang sama. Sebaliknya, ekspresi intelektual dari kedua tokoh itu cenderung kontras bahkan terkadang berseberangan.

Jika Pak Amien terkenal dengan pandangan dan sikap yang sangat kritis terhadap pemerintah, maka Buya Syafi’i terkenal dengan gerakan merajut ke-Indonesiaan. Jika Pak Amien adalah tokoh yang lantang berorasi di depan massa aksi, maka Buya Syafi’i adalah tokoh yang rutin mengikuti dialog lintas agama dlm upaya merawat nilai Kebangsaan dan Pluralisme.

Tetapi, terlepas dari “kontroversi” kedua tokoh tersebut, saya rasa ada hal pokok yang dapat kita ambil sebagai pelajaran bagi generasi muda, yaitu Keteguhan memegang prinsip serta nilai-nilai yang diyakini . Baik Pak Amien maupun Buya Syafi’i tahu betul bagaimana menggunakan kebebasan serta idealismenya sebagai manusia yang merdeka, baik secara pikiran maupun perbuatan.

Terakhir, untuk Pak Amien, selamat menikmati “buah reformasi” yang dulu Bapak perjuangkan bersama kawan-kawan yang lain–yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu. Tetap berjuang dengan mengedepankan Khittah Persyarikatan sebagai landasan gerak.

Dan untuk Buya Syafi’i Ma’arif, tetap bersahaja, tetap sederhana, tetap memberikan tauladan tentang bagaimana seharusnya guru bangsa bersikap: Naik kereta ekonomi, ikut mengantre di RS PKU Muhammadiyah yg notabene Buya dirikan, dan bersepeda di pinggiran Kota Sleman sambil membawa buku di dalam plastik. Jujur, sepeninggalan Gus Dur, saya merindukan sosok Negarawan seperti itu.

Wallahu A’lam Bishawab.

Tinggalkan Balasan