Berita Negeri Berita Persyarikatan Essay Opini

Guru Bangsa: Buya Syafi’i Ma’arif

Oleh: Ali Ahmad Alfarisy[1]

Jernih, berani, dan bersahaja. Mungkin itulah 3 kata yang menurut saya tepat untuk menggambarkan sosok seorang Buya Syafi’i Ma’arif. Entah sudah berapa puluh tulisan baik di media cetak maupun media daring yang membahas serta mengangkat sikap dan keteladaan Beliau. Yang jelas – dan yang saya yakini –, masih banyak keteladanan sikap dan tindakan Buya yang masih menunggu untuk kita gali dan teladani.

Bagi sebagian orang, sikap dan pemikiran Buya Syafi’i adalah sesuatu yang sukar untuk dimengerti. Untuk itu, terkadang tindakan-tindakan yang Buya lakukan seringkali mengundang kontroversi di kalangan khalayak. Saya ingat ketika Masyarakat Indonesia dihebohkan oleh kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) menjelang Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 lalu. Berbeda dengan ulama kebanyakan, Buya Syafi’i justru cenderung membela Ahok dengan mengatakan bahwa Ahok hanya mengkritik orang yang menggunakan Al-Qur’an agar tidak memilihnya di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Bahkan, Buya secara terang-terangan mengkritik Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait fatwa yang mereka keluarkan atas kasus ini. Dalam pandangan Buya, MUI harus menjaga martabatnya melalui fatwa yang didasarkan atas analisa yang jernih, cerdas, dan bertanggung jawab. Atas sikapnya itu, Buya mendapat cacian dan makian dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka Anti-Ahok di media sosial.

Tetapi, sebagaimana yang telah disebutkan diatas, Buya Syafi’i Ma’arif adalah sosok yang jernih dan berani. Buya adalah sosok yang melihat segala sesuatu sejernih mungkin tanpa melihat kepentingan dan tekanan di sekitarnya. Bisa saja Buya memilih diam atau menjawab dengan jawaban yang normatif terkait pendapatnya atas kasus Ahok saat itu. Tetapi, Buya adalah Buya, ia akan mengatakan benar apa yang menurutnya benar, dan mengatakan salah apa yang menurutnya salah. Meminjam istilah Bung Hatta kepada Tan Malaka: tulang punggungnya terlalu keras untuk membungkuk kepada siapapun.

Selain dikenal sebagai sosok yang jernih dan berani, Buya Syafi’i juga banyak dikenal sebagai tokoh yang bersahaja. Hal ini bisa dilihat dari salah satu artikel  suaramuhammadiyah.id yang berjudul “Kesederhanaan Buya Syafi’i Ma’arif” pada tahun 2017 lalu. Ikut mengantre di PKU Muhammadiyah, naik KRL, atau makan di angkringan adalah beberapa kesahajaan Buya yang pernah “tertangkap basah” oleh media.

Bagi Buya sendiri, kesahajaannya merupakan hal biasa yang kerap ia lakukan setiap hari. Tapi bagi saya – dan saya yakin bagi kebanyakan orang yang menganggap Buya adalah “orang besar” – sikap bersahaja yang Buya tunjukan merupakan sebuah “oase” di tengah sikap sebagian elit di negeri ini yang cenderung angkuh dan ingin selalu di istimewakan dalam segala hal.

Bagi saya, Buya Syafi’i Ma’arif telah memberikan definisi lain terkait “orang besar”, yaitu orang yang berbuat kecil tapi memberikan makna dan pengaruh yang besar. Buya memberikan contoh bagaimana menjadi “Sang Surya” yang sebenarnya: memberikan cahaya walaupun di tengah badai sekalipun. Entah berapa jabatan “menggiurkan” lagi yang akan Buya tolak, dan entah berapa “kejumudan” lagi yang akan Buya dobrak. Yang jelas, Buya akan terus berjalan di atas prinsip-prinsip dan nilai-nilai kesederhanaan yang ia pegang, tak peduli apapun kata orang.

Saya berani bertaruh bahwa Buya tidak akan mau dan tidak akan pernah merasa pantas untuk disebut sebagai Guru Bangsa. Tetapi, bagi anak muda seperti saya yang belum berbuat apa-apa bagi bangsa ini, sikap dan keberanian Buya telah jauh melampaui arti dari kata “Guru” yang sudah ada sebelumnya – tentunya tanpa mengecilkan arti dari kata “Guru” itu sendiri. Bahwa “Guru” bukan hanya digugu dan ditiru tetapi juga harus dikemas dengan sikap tawadhu, sehingga nantinya pengakuan guru tidak datang dari diri sendiri melainkan refleksi dari orang-orang yang mendapatkan manfaat dari apa yang dilakukan.

Terakhir, untuk Buya Syafi’i Ma’arif, saya hanya bisa mendo’akan agar Buya selalu diberi kesehatan dan nikmat umur yang panjang. Tetap memberikan teladan bagaimana seharusnya “orang besar” bersikap dengan tidak ingin diistimewakan dan berdiri di atas semua golongan. Di tengah kondisi bangsa yang sedang “mendung” akibat kontestasi politik ini, semoga keteladanan satu Guru Bangsa seperti Buya bisa menjadi “Sang Surya” bagi Bangsa Indonesia. Wallahu a’lam bishawab

[1] Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Bandung

Tinggalkan Balasan