Berita Negeri Essay Opini

PENGEMIS DAN STIGMA NEGATIF MASYARAKAT

Oleh : Nur Fitriyani, PC IMM Kab. Garut

“Jika mau memberdayakan harus tahu siapa yang dituju, bukan hanya sekedar datang dan pasang badan.” –Mas Sahrul, Sekbid SPM DPD IMM Jabar.

Ungkapan tersebut nampaknya tepat sekali, bagi siapapun yang berkeinginan atau sedang melakukan pemberdayaan. Permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat bermacam-macam. Hal pertama yang perlu kita lakukan sebelum melakukan pemberdayaan adalah melakukan identifikasi, kemana atau kepada siapa sasaran dari pemberdayaan tersebut. Banyak kegiatan pemberdayaan yang akhirnya gagal karena tidak tepat sasaran. Maka, perlu menjadi perhatian untuk menentukan sasaran pemberdayaan dan kemudian fokus akan hal tersebut.

Di dalam tulisan ini, saya akan membahas mengenai salah satu permasalahan sosial yang sudah sangat akrab dengan masyarakat, yakni Pengemis. Serta, bagaimana stigma negatif masyarakat terhadapnya.

Akhir tahun lalu, saya dan beberapa teman melakukan Ansos di sekitaran Alun-alun Kota Bandung. Ada beberapa hal yang harus kami analisa saat itu, salah satunya adalah Pengemis. Kami kemudian menemukan seorang pengemis, terduduk tepat di depan Mesjid Raya. Ia adalah seorang Ibu paruh baya dan (maaf) tuna netra. Dari hasil percakapan kami dengan Ibu tersebut waktu itu, kami mengetahui jika Ibu tersebut sebenarnya tidak ingin menjadi pengemis. Namun, karena tuntutan hidup ia tidak punya pilihan. Ia dan suaminya yang sama-sama tuna netra, akhirnya mengemis untuk menyambung hidup. Ibu tersebut juga mengungkapkan bahwa sebenarnya ia malu mengemis. Walaupun memiliki softskill memijat, jarang juga ada orang yang datang ke tempatnya untuk dipijat. Softskill yang ibu miliki tidak bisa dijadikan profesi dengan penghasilan yang mencukupi.

Saya kira, tak banyak juga profesi yang memang dikhususkan untuk penyandang disabilitas, bahkan hampir tidak ada. Sedangkan mereka pun harus tetap makan dan hidup. Tidak mungkin juga selamanya hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah atau tetangga sekitar. Masuk akal jika akhirnya mereka memutuskan menjadi pengemis. Mengharapkan belas kasihan dan uang recehan dari orang-orang. Karena mungkin hanya itu peluang untuk mendapatkan uang.

Pertemuan saya dengan ibu tersebut menyadarkan saya sepenuhnya bahwa tidak semua pengemis ‘abal-abal’. Oke, maksud ‘abal-abal’ disini adalah yang hanya berpura-pura. Tidak sedikit pengemis yang berpura-pura sakit, pincang, buta, atau apapun agar mendapat iba dari orang lain. Saya benci sekali melihat orang yang sehat, normal dan memiliki fisik yang lengkap, apalagi masih muda berakhir meminta-minta di pinggir jalan atau di depan pusat pembelanjaan. Rasanya tidak bisa di tolerir, apapun alasannya. Mereka yang sehat, tidak cacat, dan masih muda punya banyak pilihan. Saya yakin ada hal lain yang bisa dikerjakan selain mengemis. Saya jarang sekali memberi pada pengemis. Apalagi pernah santer terdengar kabar, jika di suatu tempat di kota saya, ada sebuah pemukiman yang dihuni oleh para pengemis. Namun, rumah-rumah di pemukiman tersebut bagus-bagus, mewah. Orang dengan tidak tahu malunya menjadikan kegiatan mengemis menjadi profesi. Saya tidak habis pikir, ada ya orang seperti itu. Kemudian, ada juga satu kasus lain dimana orangtua menyuruh anaknya untuk meminta-minta, untuk mengemis pada orang lain. Yang kalau kita beri mereka uang, hal tersebut sebenarnya sama sekali tidak membantu anak tersebut, Sebagian besar masyarakat mungkin akan sependapat dengan saya, memandang para pengemis sebagai orang yang melakukan hal kurang baik, apalagi jika pengemis itu tampak sehat dan masih mampu mengerjakan hal lain.

Namun, setelah bertemu ibu pengemis di depan mesjid raya bandung itu, setelah mendengar segala cerita dan kelus kesahnya, saya menyadari bahwa ternyata ada juga orang yang sangat kesulitan, yang tidak punya pilihan pekerjaan lain, yang punya keterbatasan, dan akhirnya menjadi pengemis walaupun sebenarnya ia malu melakukan itu.

Saya mulai mengidentifikasi pengemis yang saya temui. Kadang-kadang, saya marah pada diri saya sendiri ketika melihat mereka. Saya merasa tidak bisa melakukan apapun untuk membantu mereka. Terlepas dari pengemis yang memang benar-benar kesulitan dalam hidupnya sehingga tidak punya pilihan lain selain mengemis, atau pengemis ‘abal-abal’ yang berpura-pura agar dapat dikasihani orang-orang, saya rasa keduanya membutuhkan pertolongan. Keduanya membutuhkan pendampingan sosial yang serius dan berkelanjutan.

Pengemis ada dimana-mana. Dan sebenarnya tidak ada yang bisa diharapkan juga dari adanya pengemis, selain menambah permasalahan sosial. Di kota-kota besar, para pengemis ini terorganisir dan memiliki ‘bos’, setiap pengemis wajib memberikan uang setoran pada ‘bos’ mereka. Pengemis berubah menjadi sebuah profesi di masyarakat kalangan bawah. Apalagi jika mendekati hari raya idul fitri, pengemis seperti menjamur dan ada dimana-mana.

Saya pikir ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk –setidaknya, membantu  mengatasi salah satu permasalahan sosial ini, diantaranya;

Pertama, mengubah mindset pada pengemis. Saya pikir ini yang paling sulit, namun jika berhasil dapat membuka gerbang keberhasilan untuk mengatasi permasalahan ini. Mengubah stigma bahwa pengemis itu hina dan tak berdaya, menjadi sekelompok orang yang sama seperti kita, manusia biasa yang berjuang untuk bertahan hidup, terlepas dari orang itu menjadi pengemis karena tidak punya pilihan atau memang karena memilih untuk mengemis. Setiap orang berhak berjuang untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhannya sehari-hari, namun tentu harus dilakukan dengan cara-cara yang baik. Mengubah mindset ini dapat dilakukan dengan cara; kita terjun langsung di lingkungan para pengemis tersebut, mendengar cerita mereka, atau dengan mengobservasi. Saya yakin rasa empati akan muncul disini. Tidak hanya sekedar memberi uang recehan, kemudian ditinggalkan begitu saja.

Kedua, mengubah mindset untuk menjadi pengemis. Oke, jika di poin pertama adalah mengubah pandangan masyarakat terhadap pengemis, di poin ini mengubah mindset pengemis itu sendiri untuk tidak menjadi pengemis. Saya sempat menyinggung mengenai pemukiman pengemis dengan rumah-rumah bagus dan mewah, atau pengemis kaya raya. Anehnya, walaupun mereka sudah punya rumah bagus, dan kekayaan yang mencukupi, mereka tetap kembali ke jalanan untuk mengemis. Saya rasa permasalahan pengemis disini bukan hanya masalah ekonomi, namun mengenai mental. Mental seperti inilah yang perlu diubah, mindset seperti ini yang perlu diperbaiki. Di jepang, sebagai salah satu Negara maju di dunia, pun memiliki gelandangan dan rakyat miskin. Di Tokyo, jumlah gelandangan terus bertambah setiap tahunnya karena ketatnya persaingan kerja. Namun, populasi pengemis sangatlah kecil. Orang jepang punya harga diri yang tinggi, mereka pantang meminta-minta. Mereka mempunyai prinsip, jika ingin mendapatkan uang ya harus bekerja keras. Maka mereka memilih mengumpulkan kaleng bekas dan kardus untuk dijual, daripada meminta belas kasihan orang.  

Ketiga, melakukan pendampingan sosial. Jika kita tidak punya cukup kekuasaan dan kekayaan, tapi ingin membantu menanggulangi permasalahan sosial ini, maka kuncinya adalah sinergi. Kita bisa menjadi mediator antara para pengemis dengan LSM, komunitas pemberdayaan, Lazis/Baznas/Zis, atau lembaga pemerintahan. Pendampingan ini dilakukan secara berkelanjutan, sehingga para pengemis dapat menemukan dan melakukan pekerjaan lain yang lebih layak dibanding mengemis. Pendampingan sosial ini dilakukan dengan memberikan penyadaran secara pelan-pelan, mengubah mindset orang untuk menjadi pengemis, dan pelatihan softskills.

Mengutip perkataan Dr. Preecha Sitdhikornkai, seorang dosen senior di Kasetsart University sekaligus ahli bidang Agricultural Cooperative and Fair-trade, “We should not only give the poor only money today but also give knowledge, because knowledge can create new money for tomorrow.”. (https://www.kumparan.com)

Di dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud, pun dijelaskan bagaimana cara Rasulullah dalam menghadapi pengemis. Beliau tidak langsung memberi uang, namun menanyakan apa yang dimiliki pengemis tersebut agar dapat dijadikan modal. Selanjutnya pengemis tersebut dibekali sebilah kapak dan disuruh mengumpulkan kayu bakar untuk kemudian dijual. Hal ini dilakukan untuk mencegah ketergantungan seseorang kepada orang lain. Serta, menyadarkan bahwa apapun yang dimiliki sebenarnya mempunyai nilai produktivitas, tergantung bagaimana  memanfaatkannya secara kreatif.

Pun, dengan permasalahan pengemis di masa kini. Jika kita terus memberi uang, sebenarnya kita tidak sedang menolong mereka. Saya pikir, kedermawanan bukan satu-satunya cara untuk menolong mereka, namun ada aspek lain yang mereka butuhkan yakni pemberdayaan secara berkesinambungan.

 (Garut, Februari 2019)

Tinggalkan Balasan