Opini

Sang Humanis dari Jombang

Oleh: Ali Ahmad Alfarisy

Lahir dengan nama Abdurrahmah Addakhil yang mempunyai arti Abdurrahmah “Sang Penakluk”, Presiden ke-4 RI ini lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama panggilan Gus Dur. “Gus” sendiri merupakan panggilan khas bagi anak seorang Kyai khususnya di lingkungan pesantren.

Sejak kecil, Gus Dur sudah akrab dengan berbagai corak dan warna pendidikan. Dari mulai pendidikan sekolah kristen, pesantren, Al-Azhar, sampai pendidikan Eropa pernah ia kenyam. Selain itu, tak ada yang meragukan kemampuan Gus Dur dalam membaca. Bayangkan ketika teman sebayanya seusia anak SMP di pesantren mengkaji kitab-kitab kuning, Gus Dur kecil sudah sibuk mengkaji Karl Marx, Kafka, Hemmingway, dan tokoh-tokoh besar dunia lainnya. Hal ini membuat wadah pemikiran Gus Dur menjadi sangat besar dan berwarna sehingga mampu menerima semua perbedaan.

Di tengah semua perbedaan itulah Gus Dur menemukan sesuatu yang ia anggap dapat dan harus diperjuangkan oleh seluruh manusia terlepas dari agama, suku, ras, dan semua perbedaan lainnya. Sesuatu itu bernama Kemanusiaan.

Dalam pandangan Gus Dur, memuliakan manusia adalah berarti memuliakan penciptanya, dalam hal ini Allah SWT. Untuk itu, Gus Dur sangat menekankan kepada umat islam agar senantiasa bersikap egaliter, memandang semua manusia sama derajatnya, dan memperlakukannya sebagaimana memperlakukan manusia semestinya.

Gagasan inilah yang dipakai oleh Gus Dur untuk menyelesaikan perbedaan dan konflik-konflik yang ia temui di masyarakat, dan gagasan ini pula yang mengantarkan namanya menjadi ‘harum’ di kalangan masyarakat Papua, keturunan Tionghoa, dan masyarakat-masyarakat lain yang pernah mencicipi pendekatan humanis ala Gus Dur lainnya.

Pendekatan humanis ala Gus Dur ini membuktikan bahwa dalam penangan konflik serta perbedaan apapun yang dibutuhkan adalah bicara dari hati ke hati sehingga antara satu pihak dan pihak lain tak ada yang perlu ‘merendahkan’ ataupun ‘meninggikan’ posisinya, antara pihak satu dan pihak lain tak ada yang perlu merasa kalah dan bahwa keberagaman perlu diletakkan di atas hal bernama kemanusiaan

Maka tak heran di peristirahatan terakhirnya Gus Dur tak ingin dicatat sebagai Presiden Ke-4 Republik Indonesia, atau cucu Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari. Di batu nisannya Gus Dur ingin dicatat “Di sini terbaring seorang Humanis” , ditulis dalam 3 bahasa: Indonesia, Inggris, dan Tionghoa.

Teruntuk Almarhum Gus Dur, Lahul Fatihah

Tinggalkan Balasan