Opini

SEBUAH CATATAN PINGGIR

Oleh: Ali Ahmad Alfarisy

“Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang menindas ini.” (Victor Serge, Bolshevik)

Sejatinya, mahasiswa merupakan bagian dari rakyat yang mempunyai fungsi khusus, yaitu sebagai agen perubahan, sosial kontrol, generasi penerus, dan penjaga moral. Dan jika ditarik lebih jauh ke dalam aspek sejarah, mahasiswa mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses berdirinya Republik Indonesia ini.

Tentunya kita mengenal Soekarno, seorang mahasiswa teknik dan seorang orator ulung yang dengan gagahnya membacakan teks proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Dan siapa yang tidak kenal Hatta, seorang mahasiswa ekonomi dan seorang administrator yang kelak mendampingi Sukarno membacakan teks yang sangat fenomenal tersebut.

Melihat mereka berdua, tentunya kita tahu betapa istimewanya status mahasiswa pada zaman itu, terlebih jika melihat betapa nekat dan geniusnya seorang Tan Malaka, betapa cerdasnya Sjahrir, dan betapa kritis sekaligus idealisnya seorang Soe Hok Gie. Tentunya akan semakin menambah kebanggaan kita yang notabenenya sudah menjadi mahasiswa ini.

Tetapi, yang jadi pertanyaan adalah: Sudah sejauh mana kita mengamalkan fungsi-fungsi kita sebagai mahasiswa? Sudah sejauh mana kita – yang katanya mahasiswa ini membuat perubahan terhadap lingkungan kita? Atau minimal terhadap diri kita sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan itu, sepatutnya kita perlu becermin dan mulai melihat ke sekitar. Becermin dalam artian melihat ke dalam diri kita untuk mengetahui apakah kita sudah ada di jalur yang tepat atau belum. Bukan becermin untuk mengetahui apakah bedak kita terlalu tebal atau apakah alis yang kita buat lurus atau tidak.

PENCARIAN JATI DIRI

4 tahun bukanlah waktu yang lama dan tentunya tidak akan cukup untuk mengembangkan diri kita. Maka dari itu, 4 tahun kehidupan kita di kampus seyogyanya tidak diisi hanya dengan ber-selfie, tidak diisi dengan ruang kelas yang menyerupai bioskop dimana mahasiswa duduk menonton dan mendengarkan, setelah itu pulang tanpa ada yang tertinggal. Kelas bukanlah tempat kau duduk lalu mengangguk-angguk, dan kampus bukanlah tempat yang menjadikan cita-citamu dangkal: Lulus-Bekerja-lalu mati dengan penyakit yang mudah diduga. Jika keadaan kelas atau kampusmu demikian dan kau merasa baik-baik saja, maka artinya KAU SAKIT!.

Idealnya, kelas merupakan tempat pertukaran ide, dimana berbagai pemikiran diadu untuk dicari mana yang lebih sesuai. Kelas merupakan arena debat sekaligus tempat dimana pertanyaan dan gagasan saling dilemparkan. Atau singkatnya, kelas dan kampus adalah tempat menguji mimpi sekaligus pencarian jati diri.

Perihal jati diri, ada sesuatu yang bila kita memutuskan terjun ke dalamnya, maka kita akan lebih mudah mendapatkan jati diri kita. Ialah ORGANISASI. ‘Sangkar’ yang indah dan sulit ditolak bagi anak muda yang berani dan ‘menghamba’ pada perubahan. Sesuatu yang tidak diajarkan di mata kuliah apapun. Sesuatu yang akan membuatmu lihai dalam retorika, jago debat dan ahli dalam mengorganisir massa.

Organisasi akan membuatmu menjadi seseorang yang ‘menonjol’ diantara kawan-kawanmu yang apatis. Organisasi akan menempamu sedemikian rupa sehingga kau menjadi pribadi yang selalu siap apabila diajak berdebat atau berdialektika. Disanalah kau akan dilatih untuk memimpin, peduli, dan melindungi.

Apalagi kalau organisasi yang kau ikuti itu tergolong organisasi besar seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), atau Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Bukan bermaksud pragmatis, tetapi organisasi tersebut akan banyak membantumu setelah lulus nanti, khususnya jaringan dari organisasi tersebut, dan nama organisasinya yang bisa kau tuliskan untuk melengkapi CVmu kelak saat kau akan mulai bekerja.

Tetapi yang jelas, dengan masuk ke sebuah organisasi, kau akan mendapat sesuatu yang lebih berharga ketimbang IPK yang tinggi, kau akan lebih berani mengambil posisi, tak gampang berkhianat pada pendirian dan menghargai kebebasan berpendapat. Maka tak heran banyak orang yang mengatakan bahwa organisasi adalah KULIAH YANG SESUNGGUHNYA.

Maka, pilihannya ada pada kita sebagai mahasiswa. Apakah memilih membiarkan kampus menjadikan kita sapi perah yang memeras uang kita melalui biaya kuliah yang semakin tinggi, atau memilih menjadikan kampus sebagai tempat kita bertualang menguji mimpi sekaligus mencari jati diri? 

Mari kita bungkam mulut mereka yang menyebut kita so serius hanya karena lebih memilih mengkaji filsafat ketimbang membuat snapgram seperti mereka! mari kita bungkam mereka yang menyebut kita so sibuk hanya karena sedang menempa diri ketimbang mereka yang nongki sana-sini!. Setelah itu, kita buktikan bahwa periode 4 tahun itu merupakan pertaruhan harga diri.

 Tak apa jika kelak kita disebut aneh karena sibuk dengan buku diantara orang-orang yang sibuk dengan gadget. Bahkan nama-nama besar seperti Soekarno, Tan Malaka, dan Soe Hok Gie pun memang harus dihina, diasingkan, bahkan dibunuh terlebih dahulu sebelum namanya dicatat dalam sejarah.

“Seorang terpelajar haruslah berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan.” -Pramoedya Ananta Toer


Tinggalkan Balasan