Sejarah

Rentang  Waktu

  • Surakarta (1964): tempat berdirinya IMM.
  • Surakarta (1965): tempat Muktamar (Munas) I IMM dan diputuskannya Deklarasi Kottabarat Enam Penegasan IMM, Lambang IMM, Bendera IMM, Mukaddimah AD/ART IMM, AD/ART IMM, Pakaian IMMawati (baju kerudung dengan warna kuning gading).
  • Surakarta (1966): tempat Tanwir (Konpernas) I IMM dan diputuskannya 15 Pernyataan IMM.
  • Garut (1967): tempat Tanwir (Konpernas) II IMM dan diputuskannya Deklarasi Garut.
  • Yogyakarta (1969): tempat Tanwir (Konpernas) III IMM dan diputuskannya sistemisasi serta pembakuan Sistem Perkaderan Ikatan (SPI).
  • Magelang (1970): tempat Tanwir (Konpernas) IV IMM dan diputuskannya Mars IMM, Hymne IMM, dan Identitas IMM.
  • Semarang (1975): tempat Muktamar IV IMM dan diputuskannya Deklarasi Baiturrahman.
  • Padang (1986): tempat Muktamar V IMM dan diputuskannya Pokok-pokok Pikiran IMM.
  • Surakarta (1986): tempat Seminar dan Lokakarya Nasional (Semiloknas) dan diputuskannya Profil Kader Ikatan.
  • Purwokerto (1992): tempat Muktamar VII IMM dan diputuskannya Nilai Dasar Ikatan.
  • Malang (2002): tempat Seminar dan Lokakarya Nasional (Semiloknas) dan diputuskannya Deklarasi Kota Malang: Manifesto Kader Progresif.
  • Jakarta (2004): diputuskannya Manifesto Politik 40 Tahun IMM.
  • Bandar Lampung (2008): tempat Muktamar XIII IMM dan diputuskannya Pokok-pokok Pemikiran IMM: Jelang Setengah Abad Memasuki Era Globalisasi.
  • Medan (2012): tempat Muktamar XV IMM dan diputuskannya Deklarasi Kota Medan.
  • Surakarta (2014): tempat Muktamar XVI IMM dan diputuskannya Deklarasi Setengah Abad IMM dan Penegasan Kembali Lambang Resmi IMM. (Surakarta sengaja dipilih sebagai Tuan Rumah Muktamar XVI IMM karena dengan maksud untuk menegaskan kembali Khittah awal IMM sebagaimana hasil-hasil Muktamar I IMM, sekaligus untuk memperingati Setengah Abad berdirinya IMM. Muktamar XVI IMM juga dimeriahkan dengan adanya Panggung Budaya Perkaderan IMM, dan Teater Kelahiran IMM di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta.)
  • Jakarta (2016) : Tempat Muktamar XVII
  • Malang (2018) : Tempat Muktamar XVIII

Sejarah

Ada dua faktor integral yang melandasi kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yaitu faktor internal, yaitu faktor yang terdapat di dalam diri Muhammadiyah itu sendiri, dan faktor eksternal, faktor yang berawal dari luar Muhammadiyah, khususnya umat Islam di Indonesia dan pada umumnya apa yang terjadi di Indonesia. 

Faktor internal, sebenarnya lebih dominan dalam bentuk motivasi idealismse, yaitu motif untuk mengembangkan ideologi Muhammadiyah. Sebagaimana yang diketahui bahwa Muhammadiyah pada hakekatnya adalah sebuah wadah organisasi yang punya cita-cita atau tujuan yakni menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridloi oleh Allah SWT, sebagaimana yang termaktub dalam AD Muhammadiyah Bab II pasal 3.

Dalam merefleksikan cita-citanya ini, Muhammadiyah mau tidak mau harus bersinggungan dengan masyarakat bawah (jelata) atau masyarakat heterogen meiputi masyarakat petani, pedagang, peternakan dan masyarakat padat karya dan ada masyarakat administratif dan lain sebagainya yang juga termasuk didalamnya masyarakat kampus atau intelektual yaitu Masyarakat Mahasiswa.

Persinggungan Muhammadiyah dalam maksud dan tuiuannya, terutama terhadap masyarakat mahasiswa, secara teknisnya bukan secara langsung terjun mendakwahi dan mempengaruhi mahasiswa yang berarti orang-orang Mahasiswa, khususnya para mubalighnya yang langsung terjun ke mahasiswa. Tapi dalam hal ini Muhammadiyah memakai teknis yang jitu yaitu dengan menyediakan yang memungkinkan menarik animo atau simpati mahasiswa untuk memakai fasilitas yang telah disiapkan.

Pada mulanya para mahasiswa yang bergabung atau yang berprinsip sama dengan muhammadiyah, Muhammadiyah menganggap cukup bergabung dalam organisasi otonom yang ada dalam Muhammadiyah, seperti Pemuda Muhammadiyah (PM) pada tanggal 25 Dzulhiijjah 1350 H Yang diperuntukkan untuk mahasiswa dan Nasyi’atul Aisyiyah (NA) yang lahir pada 27 Dzulhijjah 1349 H untuk mahasisiwi. Anggapan Muhammadiyah tersebut lahir pada saat-saat Muktamar Muhammadiyah ke-25 di Jakarta pada tahun 1936 Yang pada saat itu dihembuskan pula cita-cita besar Muhammadiyah untuk mendirikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang dimana pada saat itu, Pimpinan Pusat (PP) dipegang oleh KH. Hisyam (periode 1933-1937).

Sebenarnya, impian Muhammadiyah untuk menghimpun ranah mahasiswa secara khusus sudah terbesit, namun dikarenakan saat itu Muhammadiyah belum mempunyai perguruan tinggi sendiri maka sulit untuk merealisasikan ide tersebut. Maka dari itu, Alternatif yang dipilih yaitu bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan ada image waktu itu yang menyatakan bahwa HMI adalah anak Muhammadiyah yang diberi tugas khusus untuk membawa mahasiswa dalam misi dan visi yang dimiliki oleh Muhammadiyah, karena waktu itu ditubuh HMI sendiri dipegang oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah yang secara aktif mengelola HMI.

Pada waktu itu Muhammadiyah secara kelembagaan turut mengelolai HMI baik dari segi moral ataupun material, sampai belakangan ini menurut data-data yang ada di PP Muhammadiyah menyatakan bahwa Muhammadiyah (terutama PTM dan RS Sosial) secara materiil turut membiayai hampir setiap aktifitas HMI baik mulai dari tingkat konggres sampai aktifitas sehari -hari. Disinilah sekali lagi bukan HMI yang turut menelurkan tokoh-tokoh Muhammadiyah tapi sebaliknya bahwa Muhammadiyah yang dulu ikut aktif membesarkan HMI. Mengapa hal itu dilakukan? Jawabannya seperti dikemukakan diatas, yaitu bahwa HMI diharapkan akan tetap konsisten dengan faham keagamaan yang diilhami oleh Muhammadiyah.

Namun pada perkermbangannya dahulu HMI mulai bergeser dari apa yang dicita – citakan oleh Muhammadiyah yakni, Independensi dalam kontekstualisasi Al – Qur’an dan As – Sunnah. Melihat situasi tersebut maka, pihak PP Muhammadiyah mengeluarkan suatu kebijakan yaitu mengaping kader-kader Muhammadiyah yang masih berada dijenjang Pendidikan Tinggi agar tidak kehilangan nilai – nilai yang sudah lama diperjuangkan.

Pada 15 Desember 1963 mulai diadakan pejajagan dengan didirikannya Dakwah Mahasiswa yang dikoordinir oleh : Ir. Margono, Dr. Sudibjo Markoes dan Drs. Rosyad Saleh. Ide pembentukan ini berasal dari Drs. Moh. Djazman yang waktu itu sebagai Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah. Dan sementara itu desakan agar segera membentuk organisasi khusus mahasiswa dari berbagai kota seperti Jakarta dengan Nurwijo Sarjono MZ. Suherman, M. yasin, Sutrisno Muhdam, PP Pemuda Muhammadiyah dll-nya kian menguat.

Akhirnya dengan restu PP Muhammadiyah waktu itu diketuai oleh H.A. Badawi, dengan penuh bijaksana dan kearifan mendirikan organisasi khusus Mahasiswa Muhammadiyah yang dikoordinir oleh Drs. Moh. Djazman sebagai ketua dengan anggota M. Husni Thamrin, A. Rosyad Saleh, Soedibjo Markoes, Moh. Arief dll. yang kemudian dinamakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. 

Musyawarah pun dilaksanakan oleh IMM pada tanggal 1-5 Mei 1965 di Solo dengan Nama MUKTAMAR, yang kemudian menghasilkan Enam Penegasan IMM yaitu : 

  • IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam
  • Kepribadian Muhammadiyah adalah Landasan perjuangan IMM
  • Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (sebagai stabilisator dan dinamisator).
  • Ilmu adalah amaliah dan amal adalah Ilmiah IMM.
  • IMM adalah organisasi yang syah-mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan dan falsafah negara yang berlaku.
  • Amal IMM dilakukan dan dibaktikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa.

Faktor internal lainnya dalam melahirkan IMM yakni, adanya motivasi etis dikalangan keluarga Muhammadiyah. Dalam upaya mewujudkan maksud dan tujuan Muhammadiyah, baik yang berada di dalam struktural ataupun diluar, juga para simpatisan dari berbagai kalangan, harus dapat memahami dan mengetahui Muhammadiyah secara dalam agar tidak terjadi pemahaman – pemahaman yang menyimpang. Penegasan motivasi etis ini sebenarnya merupakan interpretasi (pemahaman) dari firman Allah SWT. dalam QS. Al-Imran:104 yang diharapkan kader-kader Muhammadiyah khusunya IMM, dapat merealisasikan motivasi etis diantaranya dengan melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dan juga  ber-Fastabiqul Khairat.