images (1)-9832ac02

Serba Serbi Ke-Cerdas-an

Setiap orang menginginkan dirinya untuk menjadi cerdas akan tetapi, tidak semua orang paham akan caranya. Sebenarnya sederhana jika menyingkap penyebab dari kejadian tersebut. Kurang memaksimalkan nalar adalah penyebab yang paling fundamental. Selaras dengan orang – orang terdahulu yang oleh sosial dianggap cerdas, bahwa sebenarnya yang disematkan simbol kecerdasan adalah mereka, orang orang yang menggunakan nalarnya semaksimal mungkin. Albert Einstein misalnya, ia menggunakan daya nalarnya untuk menyingkap pengetahuan – pengetahuan yang kala itu bersifat rahasia. Rocky Gerung, yang dimana oleh cukup banyak masyarakat, ia dikategorikan sebagai orang yang cerdas karena menggunakan nalarnya. Pun dengan Nabi Muhammad SAW, yang menggunakan nalarnya bahkan dari sejak dini – masa  ketika nabi masih dalam asuhan ibu susunya yang seorang baduy -, dikala beliau menyendiri di gua hira, hingga masa dagang dan masa kepemimpinan.

Sebenarnya, jika ditilik kembali, cerdas – dan atau kata yang sepadan – dalam konteks makna sifat, secara ontologis adalah tidak ada. Suatu sifat pastilah ada lawannya, apabila ada orang cerdas, berarti ada pula orang yang bodoh. Surat At-Tin : 4 menjelaskan bahwasannya manusia diciptakan dalam bentuk sebaik – baiknya. Pun bahasa arab yang digunakan untuk mengungkapkan manusia adalah iinsan yakni mengacu pada kualitas yang dimiliki oleh manusia – jika bashir maka maknanya adalah manusia secara biologis, ins mengacu pada sifat fisik, khilafah mengacu pada tujuan hidup dari manusia ketika lahir di bumi. Jika secara hakikat, orang cerdas ada, maka tentunya seakan tuhan pun menciptakan orang bodoh yang dimana hal tersebut dapat diinterpretasikan sebagai produk gagal, yang kemudian jika seperti itu, maka Al – Qur’an akan dianggap tidak valid.

Namun jika ditilik secara sosial, maka cerdas dan bodoh adalah sesuatu yang nyata adanya. fungsi pembedaan antara cerdas dan bodoh tak lain adalah untuk mempermudah komunikasi dalam menyimpulkan sesuatu. Sifatnya pun tidak saklek, artinya jika hari ini seorang individu memperlihatkan kebodohan maka masih ada kemungkinan bahwa ia akan menunjukan kecerdasan di kemudian hari. Kesimpulannya adalah kecerdasan bersifat interpretatif – relatif. Interpretatif berarti kecerdasan adalah sesuatu yang diduga – duga dan memiliki kemungkinan bahwa hal tersebut keliru. relatif berarti seorang individu dalam sudut pandang individu yang lain bisa saja cerdas namun tidak dalam sudut pandang individu lainnya.

Untuk terlihat cerdas di mata orang lain maka, kita perlu membangun interpretasi orang lain, menyesuaikan dengan referensi orang lain tentang ciri – ciri dari cerdas itu sendiri. Masing – masing individu mempunyai kriteria sendiri namun, ada satu kriteria umum yang relevan bagi semua orang, yaitu lebih berwawasan luas dari individu yang menyimpulkan. Tentunya, berwawasan luas haruslah selaras dengan pengetahuan yang dimiliki dan tidak ada cara lain – jika tidak selaras maka bentuk interpretasinya bisa jadi sok cerdas -. Satu hal yang perlu dicatat bahwa untuk terlihat cerdas memiliki pola yang paradoks. Jika kita menuntut diri kita untuk terlihat cerdas di mata orang lain, kemungkinannya hasilnya adalah sebaliknya. Namun jika memusatkan fokus kepada kualitas dan kuantitas pengetahuan, maka kemungkinan besar hasilnya akan sesuai dengan keinginan. Bisa dibilang, cerdas adalah efek samping dari wawasan dan pengetahuan yang kita miliki.

Untuk mendapatkan wawasan yang luas maka, seorang individu perlu untuk memperbanyak belajar dan memperdalam keilmuan yang sedang digeluti, Namun, cukup banyak orang yang tidak kuasa untuk tetap stabil dalam proses pembelajaran – malas atau mager -. Penyebab utamanya adalah kurangnya pemahaman akan aspek “belajar” itu sendiri – tidak mempunyai alasan atau tujuan mengapa perlu belajar -. Dalam proses belajar, seorang individu tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal apabila alasan atau tujuannya bukan dari diri sendiri – karena disuruh, kewajiban, dll.- yang menyebabkan ketidak seriusan dalam bertindak – inisiatif, kreatifitas -. Hal itu dikarenakan, stimulus dari tindakan manusia berada pada otak limbik yang mempunyai tanggung jawab terhadap tindakan dan emosional – motivasi, inspirasi, dll. – manusia. Maka dari itu untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam belajar, perlu adanya kesadaran terlebih dahulu.

Sederhanya, kesadaran adalah suatu hal yang berbentuk alasan dan tujuan. Pemantik dari kesadaran adalah pertanyaan kritis tentang “kenapa/mengapa” terhadap suatu hal.  Pemantik selanjutnya adalah pertanyaan kritis dari “bagaimana” terhadap suatu hal. “Kenapa” memiliki fungsi prinsipil dalam membangun motivasi dan tujuan, dan “bagaimana” berfungsi untuk mengejawantahkan atau sebagai cara untuk menempuh tujuan dari jawaban “kenapa”. Emosi negatif – dendam, iri, dsb. – dapat dijadikan tambahan pemantik yang sangat kuat dalam proses pembangunan kesadaran.

Tentunya, pun dalam proses pembangunan kesadaran, seorang individu pastinya akan bersentuhan dengan banyak rintangan. Salah satunya adalah perasaan anxietyAnxiety adalah perasaan khawatir, gugup atau cemas yang biasanya mengenai suatu kejadian yang akan datang atau terhadap sesuatu hal yang tidak pasti (Kamus Oxford). Anxiety menjadi salah satu faktor utama mengapa seorang individu menolak kesadaran. Bentuk dari anxiety pun bisa bermacam – macam; seperti kekhawatiran terhadap penolakan atau perlawanan, perasaan ketidak mampuan untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri, dsb. Anxiety merupakan rintangan yang cukup pelik  karena proses penyelesaiannya tidak cukup hanya sekedar menggunakan logika saja, perlu dorongan emosi dan terkadang perlu dukungan dari lingkungan – keluarga, teman, dsb. -.

Untuk melewati setiap proses dalam membentuk kecerdasan seorang individu, individu tersebut memerlukan proses untuk mempertanyakan banyak hal terhadap diri sendiri. Hal ini guna membangun pemahaman yang valid dari setiap permasalahan yang dialami dan juga solusi dari permasalahan tersebut. Kejelasan permasalahan yang dialami akan mempermudah seorang individu 

untuk melakukan tindakan yang seperti apa yang tepat dalam menyelesaika permsalahan tersebut sehingga mempunyai kemungkinan yang kecil terjadinya tindakan – tindakan yang tidak efektif dan efisien. Maka dari itu, diperlukan pemahaman perihal komunikasi intrapersonal.

Pengertian sederhana dari komunikasi intrapersonal adalah berbicara dengan diri sendiri tentang suatu keresahan yang dialami. Komunikasi intrapersonal berfungsi sebagai pisau analisis dalam mengungkap suatu permasalahan atau keresahan yang dialami sekaligus mendapatkan jawaban dari permasalahan atau keresahan tersebut. Dan juga Komunikasi intrapersonal dapat dijadikan suatu alat untuk mengatasi anxiety, pembangunan kesadaran dan juga aspek filosofis dari kecerdasan itu sendiri. Proses komunikasi intrapersonal terbilang cukup sederhana, yakni hanya mengajukan pertanyaan; kenapa suatu hal dapat terjadi dan bagaimana cara menyelesaikannya. 

Komunikasi intrapersonal sebagai pisau analisis guna menjadikan seseorang menjadi cerdas hukumnya berlaku kepada setiap orang. Namun, ada kemungkinan antara seorang individu dan individu yang lain mempunyai dampak yang berbeda. Dalam psikologi, komunikasi intrapersonal kemungkinan akan berdampak signifikan bagi seorang individu yang introvert dibanding seorang individu yang ekstrovert. Hal ini dikarenakan sifat alamiah seorang introvert yang cenderung menghabiskan energinya dengan diri sendiri dibanding dengan orang lain atau lingkungannya. Sementara, untuk individu ekstrovert, akan lebih efektif apabila pisau analisis yang digunakan dengan cara menggunakan komunikasi interpersonal. Tidak ada suatu rumus yang pasti dalam menjadikan seorang individu menjadi cerdas, namun apabila rumus yang digunakan tepat, maka persentase ketercapaiannya pun akan tinggi dan hasil yang didapatkan pun akan lebih maksimal.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: